apabila negeri ini tidak memperhatikan masalah karakter bangsa, maka yang terjadi adalah banyaknya orang pinter tapi hanya menjadi negeri ini semakin berantakan saja. kenapa demikian ? ya aspek kognitif sampai sekarang masih sangat mendominasi kurikulum nasional. hal ini sudah menjadi satu sistem yang hampir - hamir tidak dapat diuraikan. dalam berbagai seleksi apakah untuk masuk ke suatu jenjang sekolah yang lebih tinggi, untuk bekerja di suatu institusi atau di mana saja, semuanya minta syarat utama masalah kognitif terlebih dahulu padahal kalau melihat kebutuhannya, sesungguhnya bukan aspek itu yang dominan dibutuhkan. ini dari satu sisi, dari sisi yang lain, masyarakat baru mengatakan sebuah sekolah adalah sekolah bagus apabila lulusannya bagus dalam kognitifnya (UNAS), sehingga mau tidak mau sekolah berusaha agar menjadi favorit dengan cara memaksimalkan usaha agar sukses UNAS walaupun tidak jarang menabrak atau tidak lagi memperhatikan aspek afektif seperti dengan sengaja mengijinkan atau bahkan memerintahkan agar saling kerja sama dalam pengerjaan UNAS. dengan demikian sejak usia sekolah secara tidak sadar pendidikan ini telah menanamkan ketidakjujuran. boleh meraih keinginan dengan segala cara walaupun harus menabrak norma, tidak memiliki rasa tanggung jawab dst yang merupakan derifativ dari tidak jujur. coba kita lihat selama masa pemerintahan SBY sampai sekarang periode kedua masa pemerintahannya, kasus yang mendominasi adalah korupsi yang sudah menjadi gurita mulai dari strata paling rendah hingga paling tinggi tidak lepas dari permasalahan seperti ini. sampai sekarang masih juga ramai masalah cen tury yang ditengarai adanya pejabat yang terlibat. bisa kita ikuti beritanya di http://nasional.vivanews.com/news/read/136895polri__ada_dua_tersangka_kasus_l_c_century.
kita semua berharap agar dunia pendidikan benar - benar memperhatikan masalah karakter bangsa. Alhamdulillah pemerintah mulai serius masalah ini dengan beberapa kali melakukan pertemuan dengan lembaga - lembaga pendidikan atau pakar pendidikan untuk menerapkan kurikulum berbasis karakter. akan tetapi menurut saya yang terpenting dari semua ini adalah guru harus yang pertama kali memiliki karakter seperti yang diinginkan sebelum membentuk karakter anak didiknya. karena mendidik karakter bukan seperti mengajarkan penjumlahan yang selesai hanya dalam waktu 1 jam. tetapi butuh keteladanan, ketelatenan, kesinambungan sehingga karakter menjadi bagian prilaku yang menyatu dalam diri anak didik.
PENDIDIKAN KARAKTER DIMULAI DARI GURU
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar